Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
ARAB SAUDI, SWARAJOMBANG.COM – Serangan drone Iran ke kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco pada 2 Maret 2026 memicu kebakaran terbatas dan kenaikan harga minyak dunia hingga 10%, mengguncang pasokan global di tengah eskalasi konflik regional.
Kilang strategis ini, salah satu yang terbesar di Timur Tengah dengan kapasitas produksi 550 ribu barel minyak per hari serta terminal ekspor utama Saudi, menjadi sasaran sebagai respons Iran terhadap insiden terkait AS dan Israel.
Dua drone yang diluncurkan berhasil dicegat sebelum mencapai target sepenuhnya, tetapi puing-puingnya memicu api di kompleks kilang. Beruntung, situasi kini terkendali tanpa korban jiwa.
Sebagai langkah pencegahan, Saudi Aramco langsung menutup sementara kilang tersebut, menghentikan sebagian produksi dan aktivitas pemuatan minyak.
Dampaknya langsung terasa di pasar global, terutama setelah Iran sebelumnya menutup Selat Hormuz yang mengangkut 20% pasokan minyak dunia.
Meski operasional mulai berangsur normal pasca kebakaran dipadamkan, penutupan ini berpotensi mengganggu pasokan secara luas.
Lonjakan harga minyak pun tak terhindarkan. Harga Brent crude naik 9-10% menjadi USD 79-80 per barel di perdagangan awal, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 8-9% mendekati USD 72 per barel.
Kenaikan ini mencapai level tertinggi dalam empat tahun, dipicu kekhawatiran atas penutupan kilang dan risiko blokade Selat Hormuz.
Analis memperingatkan bahwa jika gangguan berlanjut, harga bisa tembus USD 100 per barel. Meski kebakaran kini terkendali dan mengurangi risiko jangka panjang, volatilitas pasar tetap tinggi akibat eskalasi konflik yang menghentikan lalu lintas kapal di rute vital tersebut. **











