Menu

Mode Gelap

Hukum

Presiden Cuba Sebut AS ‘Negara Terorisme’, Merampok Minyak Venezuela $17 Triliun

badge-check


					Inilah dibalik kriminalisasi narkoka Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Negara itu pada saat i ni memiliki cadangan migas paling besar di eluruh dunia, mencapai 303 miliar barel lebih, senilai $17 triliun. Instagram@rupees Perbesar

Inilah dibalik kriminalisasi narkoka Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Negara itu pada saat i ni memiliki cadangan migas paling besar di eluruh dunia, mencapai 303 miliar barel lebih, senilai $17 triliun. Instagram@rupees

Penulis: Jacobus E. Lato    |   Editor: Priyo Suwarno

AMERIKA, SWARAJOMBANG.COM- Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyebut aksi AS sebagai “serangan kriminal” dan “negara terorisme”, menyerukan respons internasional mendesak terhadap intervensi tersebut.

Dalam unggahan di platform X, Díaz-Canel menulis: “Kuba mengecam serangan kriminal oleh AS terhadap Venezuela.” Ia menggambarkan aksi tersebut sebagai “terorisme negara terhadap rakyat Venezuela yang pemberani dan terhadap Amerika Kita (Our America)”, serta menyerukan respons mendesak dari komunitas internasional.

Díaz-Canel menyoroti bahwa “zona perdamaian” Kuba sedang “diserang secara brutal”, menekankan pelanggaran kedaulatan dan eskalasi geopolitik di Amerika Latin.

Beberapa laporan menyebut ia membandingkan serangan ini dengan genosida Israel di Gaza, menandakan solidaritas kuat Kuba terhadap Venezuela.

Presiden Chile Gabriel Boric menyatakan keprihatinan atas kekerasan militer AS, menekankan bahwa krisis Venezuela harus diselesaikan lewat dialog dan hukum internasional, bukan intervensi asing.

Rusia mengutuk tindakan tersebut sebagai agresi bersenjata, menyerukan dialog dan menegaskan solidaritas dengan Venezuela.

Beberapa analis internasional, seperti yang dilaporkan media, menyoroti pelanggaran kedaulatan negara oleh AS, meski belum ada kutipan sarkasme spesifik dari analis terkemuka yang viral.

 

Presiden Donald Trump menyampaikan pidato singkat di Mar-a-Lago, Florida, pada 3 Januari 2026, mengonfirmasi penangkapan Nicolas Maduro dan mengumumkan AS akan mengambil alih pengelolaan sementara Venezuela.

Ia menekankan operasi militer sukses sebagai langkah untuk transisi kekuasaan aman, dengan fokus utama pada sektor energi. “Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan skala besar terhadap Venezuela” dan Maduro beserta istrinya “berhasil ditangkap” lalu diterbangkan ke AS.”

Secara terang-tedangan dia menyatakan: “Amerika Serikat akan ‘mengelola’ negara itu sampai transisi kekuasaan yang aman, adil, dan solid dapat diatur. Kita akan menjalankan roda pemerintahan negara ini dengan benar,” sambil soroti minyak Venezuela agar “kembali mengalir sebagaimana mestinya” dan “menghasilkan uang untuk negara ini.”

Trump tekankan investasi miliaran dolar dari perusahaan minyak AS untuk rekonstruksi infrastruktur energi Venezuela, yang punya cadangan 303 miliar barel.“Ini tidak akan merugikan kita,” katanya, karena AS kuasai minyak dan stabilkan ekonomi pasca-rezim Maduro.Pidato ini disiarkan via Truth Social dan konferensi pers, picu kecaman dari Venezuela serta negara lain.

Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti sekitar 303 miliar barel, terbesar di dunia menurut data US Energy Information Administration.
  • Dengan harga minyak terkini ($57-$61 per barel), nilai teoritis maksimal sekitar $17-18 triliun  setara dengan sekitar Rp283 triliun rupiah, menggunakan nilai tukar terkini sekitar Rp16.650 per USD pada awal 2026.

  • Produksi harian hanya 1 juta barel, jauh di bawah potensi karena infrastruktur rusak dan sanksi.

  • Estimasi realistis untuk peningkatan produksi butuh puluhan miliar dolar investasi bertahun-tahun, seperti yang disebut Trump.

  • Harga minyak global fluktuatif ($56-$61 per barel akhir 2025-awal 2026) akibat ketegangan AS-Venezuela.

Estimasi cadangan minyak Venezuela menurut sumber resmi seperti US Energy Information Administration (EIA), BP Statistical Review of World Energy, dan OPEC adalah sekitar 303 miliar barel minyak mentah terbukti, menjadikannya negara dengan cadangan terbesar di dunia.

Angka ini konsisten sejak beberapa tahun terakhir, termasuk data 2022-2025, meskipun produksi aktual hanya sekitar 1 juta barel per hari akibat sanksi dan infrastruktur rusak.

Meski besar, nilai teoritisnya sekitar $17-18 triliun pada harga $57-61 per barel (2026), bukan angka hiperbola seperti klaim viral sebelumnya. Trump sebutkan potensi ini untuk investasi AS pasca-penangkapan Maduro. **

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Polres Jombang Ungkap Temuan Jasad di Megaluh, Korban Pembunuhan di Purwoasri Kediri

21 April 2026 - 17:01 WIB

Aksi Massa APM Kepung Gedung DPRD Kaltim, Paksa Dewan Ajukan Hak Angket terhadap Gubernur Rudi Mas’ud

21 April 2026 - 13:27 WIB

Jepang Tenang Hadapi Tsunami 3 Meter, Efek Gempat Magnetudo 7.4

21 April 2026 - 12:26 WIB

Kejati Jabar Menahan Oknum Jaksa Kejati Banten, Ivan Rinaldi Terlibat Penjualan Bukti Aset KSP Pandawa

20 April 2026 - 14:38 WIB

TNI-Polri Jombang Kompak Berantas Judi Sambung Ayam

20 April 2026 - 14:06 WIB

Kasus Hukum Jalan Terus, Inge Marita Duduk Simpuh Mohon Maaf kepada Lutviana

20 April 2026 - 12:57 WIB

Hadapi Aksi 214, Rudi Mas’ud Bangun Pagar Berduri 4 M dan 1.700 Personel Pengaman

20 April 2026 - 11:57 WIB

Poster digital ini diubggah akun Instagram@lambe_kaltim. Foto: instagran@lambe_kaltim

Diduga Keracunan Makanan MBG, 49 Santri Al Inayah Cilegon Dirawat di Rumah Sakit

19 April 2026 - 23:00 WIB

PT JFC Gugat Nany Widjaja Rp21,4 M, karena Gagal Bangun Realestat di Jombang

19 April 2026 - 21:31 WIB

Trending di Ekonomi