Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Malam itu, kuil Wat Rat Prakhong Tham diselimuti kabut tipis. Lilin-lilin di altar bergetar seolah takut pada sesuatu yang tak terlihat. Seorang pria datang membawa peti mati, wajahnya muram, matanya kosong. Ia berkata bahwa saudarinya telah meninggal, tubuhnya dingin, napasnya berhenti.
Peti itu diletakkan di tanah. Sunyi. Hingga suara samar terdengar—ketukan pelan dari dalam kayu.
Para biksu saling menatap, wajah mereka pucat. Pairat, manajer kuil, mendekat dengan langkah ragu. “Bukalah,” katanya lirih.
Tutup peti bergeser. Dari dalam, perempuan tua itu membuka matanya. Pandangan kosong, namun hidup. Bibirnya bergerak, seolah ingin berbisik, tapi hanya udara dingin yang keluar. Tangannya menggapai, mengetuk sisi peti, meninggalkan jejak suara yang menggema di ruangan.
Saudaranya terisak, “Ia sudah mati… dua hari lalu…”
Namun tubuh itu menolak api, menolak perjalanan terakhir.
Kepala biara berbisik, “Ada roh yang belum pergi.”
Dan malam itu, kuil tua di Nonthaburi menjadi saksi sebuah kebangkitan yang tak seharusnya ada. Lilin padam satu per satu, bayangan menari di dinding, dan ketukan dari peti mati terus terdengar—seperti panggilan dari dunia lain, mengingatkan bahwa batas antara hidup dan mati hanyalah tipis… dan bisa ditembus kapan saja.***











