Penulis: Eko Winarto | Editor: Yobie Hadiwijaya
DENPASAR. SWARAJOMBANG.COM-Banjir yang melanda sejumlah daerah di Provinsi Bali, pada Rabu (10/09), merupakan yang terparah dalam satu dekade terakhir, kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya.
Akibat banjir tersebut, setidaknya dua orang meninggal dunia dan lebih dari 200 orang telah dievakuasi di berbagai wilayah di Bali.
“Jadi ada yang memang ditemukan korban, dua orang meninggal,” ujar Gubernur Bali, Wayan Koster, kepada wartawan Christine Nababan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia di Denpasar.
Dua orang meninggal tersebut merupakan warga Kabupaten Jembrana, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
BNPB memantau banjir melanda empat wilayah administrasi kota dan kabupaten di Provinsi Bali.
Wilayah terdampak banjir berada di Kabupaten Jembrana, Gianyar, Tabanan, Klungkung dan Kota Denpasar.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Bali, I Wayan Juni Antara, menuturkan proses evakuasi terhadap korban banjir masih terus berlangsung hingga pukul 12.00 Wita sejak pukul 05.00 Wita.
Menurut Juni Antara, hujan yang melanda sejak kemarin, tidak berhenti sampai hari ini, mengakibatkan luapan air di sungai-sungai wilayah Denpasar.
Banyak jalan tergenang air sehingga akses jalan terputus dan tidak bisa dilalui kendaraan.
Hujan Petir
Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar melaporkan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat disertai angin kencang dan petir terjadi di sebagian besar wilayah Bali sejak Selasa (09/09) pagi.
Hujan lebat tersebut memicu sejumlah aliran sungai di Pulau Bali meluap salah satunya aliran Tukad (Sungai) Badung di dekat Pasar Badung, Denpasar.
Dilansir Antara, Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar menjelaskan penyebab cuaca ekstrem yang melanda Bali.
“Aktifnya gelombang ekuatorial Rossby di wilayah Bali dan sekitarnya mendukung pertumbuhan awan konvektif penyebab hujan lebat,” kata Ketua Kelompok Kerja Operasional Meteorologi BBMKG Wilayah III, Wayan Musteana, Rabu (10/9/2025).
Ia menyebut kondisi ini juga diperkuat dengan tingginya kelembaban udara dari lapisan permukaan hingga 500 milibar (mb).
Gelombang Rossby, lanjutnya, merupakan gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat di sekitar ekuator dan berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan.
Menurut BBMKG, cuaca ekstrem ini diperkirakan berlangsung hingga hari berikutnya, dengan tren curah hujan diprediksi mulai menurun.
Bali saat ini disebut memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.***











