Menu

Mode Gelap

Nasional

Narkoba Masuk Desa, Aparatur Desa Wajib Tes Urin

badge-check


					CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82? Perbesar

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82?

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

BANTEN, SWARAJOMBANG.COM
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menyatakan bahwa mulai tahun depan seluruh aparatur desa di Indonesia dari kepala desa, staf, hingga Badan Permusyawaratan Desa (BPD) wajib mengikuti tes urine. Kebijakan ini diambil sebagai langkah pencegahan terhadap penyebaran narkoba yang kini dinilai mulai merambah ke desa-desa.

“Tahun depan semua aparatur desa, termasuk BPD, akan diperiksa urinenya untuk mendeteksi narkoba,” kata Yandri saat menghadiri kampanye “Ayo Masyarakat Bergerak Menuju Banten Bersinar” di Desa Tambakbaya, Lebak, Banten, Selasa (5/8/2025). Ia menegaskan bahwa aparatur desa harus menjadi contoh karena mereka adalah perpanjangan tangan pemerintah di lapisan paling bawah.

Yandri mengungkapkan, peredaran narkoba kini semakin canggih dan telah menyasar berbagai lapisan, termasuk pelajar. Modusnya, siswa diberi narkoba secara gratis agar ketagihan dan akhirnya terjebak menjadi pengedar. “Siswa-siswa diumpan dengan narkoba gratis,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi semua unsur masyarakat desa—kepala desa, pendamping, ulama, dan tokoh masyarakat—untuk bersatu memutus rantai peredaran narkoba. Menurutnya, jika seluruh aparatur desa kompak, maka program pencegahan BNN akan lebih efektif.

Namun Yandri mengakui tantangan besar yang dihadapi. Sebab, dari lebih dari 75.000 desa di Indonesia, sekitar 73 persen penduduk tinggal di wilayah tersebut. Maka, ia menyerukan agar seluruh masyarakat bersama-sama bergerak, mulai dari lingkungan keluarga hingga RT/RW, serta tidak takut melawan para bandar narkoba.

Sementara itu, Kepala BNN Komjen Pol Marthinus Hukom juga menyoroti bahwa peredaran narkoba kini telah meluas hingga ke kampung-kampung nelayan dan desa-desa miskin. Hal ini ia sampaikan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat desa di Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah (7/8/2025).

Menurut Marthinus, masyarakat berpenghasilan rendah menjadi sasaran empuk jaringan narkoba. Ia mencontohkan kasus di Sumatera Utara, di mana para pekerja perkebunan lebih memilih menggunakan gaji mereka untuk membeli narkoba ketimbang memenuhi kebutuhan pokok atau menjalankan kewajiban sosial dan agama.

Melihat kondisi ini, BNN akan mulai menerapkan pendekatan berbasis desa untuk memperkuat ketanggapsiagaan masyarakat terhadap ancaman narkoba.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Jumlah Pengangguran Terbanyak di Indonesia Didominasi 5 Jurusan Kuliah

12 Agustus 2026 - 17:11 WIB

Terbakar di Selat Lombok, 1 Penumpang KMP Putri Yasmin Meninggal

12 Agustus 2026 - 16:52 WIB

MUI: Pria Berpakaian Wanita Haram saat Perayaan 17 Agustus

11 Agustus 2026 - 20:43 WIB

Ini Alasan SPAI Tolak Status Ojol jadi UMKM

11 Agustus 2026 - 19:43 WIB

Tarif Bus Trans Jatim Rp81 Berlaku 11-17 Agustus 2026

11 Agustus 2026 - 19:34 WIB

Pusoko Dilantik Jadi KDAW Sumberteguh, Warsubi: Rangkul Semua Pihak Jangan Beda Bedakan Masyarakat

11 Agustus 2026 - 16:30 WIB

40 Tahun Vakum, Seni Gambus Misri Telah Bangkit Kembali Disambut Gen Z Jombang

11 Agustus 2026 - 15:50 WIB

Sosok Runner-up Raka Raki Jatim 2026 Terseret Dugaan Paksa Aborsi, Pemkot Surabaya Putus Kontrak

10 Agustus 2026 - 21:00 WIB

Pemilik Rumah Kontrakan Tak Perlu Khawatir, DJP Belum Siapkan Pajak Baru 2027

10 Agustus 2026 - 20:44 WIB

Trending di Nasional