Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
JEPANG, SWARAJOMBANG.COM – Merasa sangat terancam, tidak nyaman dan tidak aman, menghadapi China, Jepang kini unjuk kekuatan melalui teknologi canggihnya.
Negeri Sakura ini menciptakan pusat listrik tenaga surya (PLTS) sejuah 400 Km di angkasa, dan mampu mengirimkan energi listriknya ke Bumi secara nirkabel—prestasi pertama di dunia.
Prestasi ini, menyusul rekor dunia mereka dalam kecepatan internet tercepat, mencapai 1,02 petabit per detik (setara 1.020.000 gigabit per detik) pada jarak transmisi 1.808 kilometer.
Jepang memimpin pengembangan tenaga surya berbasis luar angkasa (Space-Based Solar Power atau SBSP) melalui proyek OHISAMA. Proyek ini dirancang untuk mendemonstrasikan transmisi energi nirkabel dari orbit ke Bumi.
Satelit seberat 180 kg mengorbit pada ketinggian 400 km, menangkap sinar matahari secara kontinu tanpa gangguan cuaca atau malam hari.
Satelit tersebut memancarkan energi hingga 1 kW menggunakan teknologi gelombang mikro ke stasiun penerima di Bumi, membuktikan kelayakan transmisi nirkabel.
Pada 2025, Jepang mempersiapkan peluncuran satelit OHISAMA sebagai langkah awal menuju ladang panel surya raksasa di orbit dengan kapasitas megawatt hingga gigawatt.
Proyek ini dipimpin Japan Space Systems untuk menyediakan energi bersih berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, meski menghadapi tantangan biaya dan regulasi.
Beberapa laporan memperkirakan biaya produksi energi dari sistem SBSP seperti OHISAMA mencapai sekitar 61 sen per kilowatt-jam—jauh lebih tinggi dibanding panel surya darat.
Angka ini mencerminkan tantangan awal seperti peluncuran satelit dan pengembangan teknologi transmisi.
Biaya didominasi pembuatan satelit 180 kg, antena phased array, serta infrastruktur rectenna di Bumi, meskipun Japan Space Systems belum merilis anggaran resmi. Proyek ini lebih difokuskan pada demonstrasi teknologi daripada detail finansial.
Teknologi OHISAMA
Teknologi transmisi gelombang mikro pada proyek OHISAMA mengubah energi surya yang ditangkap satelit menjadi gelombang mikro untuk dikirim nirkabel ke Bumi. Frekuensi yang digunakan aman, mampu menembus atmosfer tanpa kehilangan besar.
-
Penangkapan Energi: Panel surya di satelit menangkap sinar matahari secara kontinu di orbit, mengonversinya menjadi listrik DC.
-
Konversi dan Pengiriman: Listrik DC diubah menjadi gelombang mikro melalui perangkat seperti magnetron atau klystron, lalu difokuskan ke antena phased array untuk membentuk beam terarah ke stasiun penerima di Bumi.
-
Penerimaan di Bumi: Antena rectenna (rectifying antenna) menangkap gelombang mikro dan mengubahnya kembali menjadi arus listrik melalui diode rectifier, dengan efisiensi konversi 80-90%. Teknologi ini aman karena intensitasnya rendah—setara sinar matahari—dan beam dirancang agar tidak membahayakan penerbangan atau satelit lain. **











