Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
SUMENEP, SWARAJOMBANG-Minggu, 5 April 2026, Nyai Inayah Wulandari Wahid—putri bungsu Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid—resmi dinikahi Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, pengasuh Ponpes Annuqayah di Gulukguluk, Sumenep, Jawa Timur.
Ini bukan bukan pernikahan biasa, ini seperti babak baru dalam novel keluarga Wahid: dari Jakarta ke pulau garis keras, dari politik nasional ke pesantren yang membentuk generasi.
Bayangkan adegan pelaminannya: ribuan santri berbaris rapi, sirine takbir menggema, dan keluarga besar NU hadir penuh. Nyai Inayah, 30-an tahun dengan senyum lembut mirip ayahnya, mengenakan kebaya putih sederhana yang sarat makna.
Di hadapannya, Dr. Shalahuddin—doktor ilmu agama yang karismatik—mengucap ijab kabul dengan suara tegas. “Saya terima nikahnya Nyai Inayah Wulandari Wahid binti Gus Dur dengan mas kawin emas 50 gram,” katanya, disambut sorak gembira.
Naratif ini lebih dari romansa. Inayah mewarisi darah Gus Dur: toleransi, pluralisme, dan semangat NU yang inklusif. Ayahnya dulu revolusi dengan Pancasila di dada, kini putrinya melanjutkan di Madura—tanah yang sering jadi headline konflik tapi juga lahirkan ulama hebat.
Dr. Shalahuddin, alumni pesantren top, sudah membina Annuqayah jadi pusat pendidikan modern: ada program AI untuk santri, kelas kewirausahaan, hingga dakwah digital. Pernikahan ini simbolis: menyatukan legacy Wahid dengan energi Madura yang tangguh.
Tokoh NU seperti Gus Mus dan keluarga Wahid turut hadir, beri tausiyah penuh hikmah. “Ini pernikahan yang menyatukan dua samudra,” ujar salah satu ulama. Di era medsos, momen ini langsung viral—TikTok banjir video akad, Instagram penuh doa. Bagi generasi muda, ini inspirasi: cinta tak kenal batas, asal berlandaskan iman.
Profil Inayah
Inayah Wulandari Wahid adalah putri bungsu Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Sinta Nuriyah. Lahir pada 31 Desember 1982, ia dikenal sebagai aktivis, aktris, dan tokoh di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ia mendirikan Positive Movement (PM) sejak 2006 untuk mendorong pemuda terlibat isu sosial seperti hak buruh migran (TKI) dan HAM. Sejak 2016, ia duduk di dewan pengawas Greenpeace Indonesia, fokus pada keadilan lingkungan dan pemberdayaan petani.
Inayah aktif di teater dan layar kaca, bintangi OK-JEK (2016–2018), serta pentas seperti Indonesia Kita, Tabib Suci (2022), dan monolog Negeri Sarung (2022) yang mengkritik politisasi agama. Ia lulusan Universitas Indonesia.
Baru saja menikah dengan Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, pengasuh Ponpes Annuqayah di Sumenep, pada 5 April 2026.
Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits adalah kiai muda asal Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang menjabat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah di Desa Guluk-Guluk.
Lahir pada 16 April 1982 di Sumenep, ia merupakan putra ulama karismatik KH. Warits Ilyas. Akrab disapa “Ra Mamak” atau “Kiai Mama'”, ia memiliki gelar doktor (Dr.) dan M.Hum., mencerminkan dedikasinya pada pendidikan agama dan pesantren.
Pesantren Annuqayah yang dipimpinnya didirikan tahun 1887 oleh KH. Moh. Syarqawi, menjadi salah satu pesantren tertua di Madura dengan ribuan santri putra dan putri. Ia aktif dalam struktur pengurus Lubangsa Putri, bersama Nyai Hj. Shafiyah A. Warits.
Baru saja menikah dengan Nyai Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu Gus Dur, pada 5 April 2026 di pesantrennya, menarik perhatian publik nasional. **











