Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga
JAKARTA, SWARAJOMBANG– Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memaparkan alasan utama tingginya kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama yang terjadi di Jawa Barat.
Menurut hasil kajian tim BGN, beberapa daerah seperti Cianjur, Garut, Bandung Barat, dan Sleman diidentifikasi sebagai wilayah endemik.
Hal ini karena kadar nitrit dalam bahan pangan di sana cukup tinggi, yang diduga kuat berasal dari cara bertani yang terlalu sering menggunakan pupuk nitrogen.
Dadan menyatakan, “Masalah lebih banyak di Jawa Barat, Garut, Cianjur, Bandung Barat dan Sleman. Itu daerah endemik karena kadar nitritnya cukup tinggi.”
Ia menambahkan, kemungkinan pemicu tingginya nitrit adalah “praktik budidaya petani yang terlalu banyak memberikan nitrogen sehingga kandungan nitrit di tanaman juga tinggi,” saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR RI.
Kadar nitrit yang tinggi ini tidak hanya ada di air, tetapi juga ditemukan pada sayuran dan buah-buahan yang dipanen.
Contohnya di Bandung Barat, tiga anak mengalami masalah pencernaan setelah makan melon yang dicurigai mengandung nitrit berlebih.
Peristiwa serupa juga muncul dari konsumsi sayuran segar yang didapat dari wilayah pertanian sekitar.
“Di Bandung Barat itu bahkan ada tiga anak yang mengalami gangguan pencernaan hanya karena makan melon. Jadi kemungkinan memang ada kandungan nitrit di melon tersebut, termasuk juga pada sayuran,” jelasnya.
Karena Jawa Barat adalah salah satu pemasok utama bahan baku MBG, kadar nitrit yang tinggi ini menjadi perhatian serius. Oleh karena itu, BGN kini sedang mengumpulkan pihak-pihak terkait di daerah endemik untuk mencegah terulangnya kasus serupa.
Langkah ini melibatkan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Kepala SPPG, ahli gizi, dan juga perwakilan dari DPR.
Dadan menjelaskan upaya konsolidasi mereka: “Kami sedang melakukan konsolidasi di daerah yang mengalami masalah.
Di Bandung Barat, seluruh mitra dan kepala SPPG kami kumpulkan, bersama ahli gizi dan wakil ketua DPR yang ikut memberikan penjelasan,” katanya.
Selain itu, BGN sedang meningkatkan pengawasan kualitas bahan baku di tingkat petani dan memperbaiki sistem pemantauan di dapur umum MBG.
Tujuannya adalah memastikan bahwa makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat tetap aman untuk dikonsumsi.
Dalam presentasinya, Dadan menyebutkan bahwa sampai November 2025, total korban keracunan akibat MBG telah mencapai 11.640 orang dari 211 kejadian di berbagai wilayah. Angka ini mencapai 48 persen dari total 441 kasus keracunan pangan nasional.
Rinciannya, 636 korban dirawat di rumah sakit, sementara 11.004 menjalani rawat jalan. Korban terbanyak berasal dari Jawa (7.925 orang), disusul kawasan timur (1.907 orang), dan Sumatera (1.808 orang).
Ada perbedaan data dengan Kementerian Kesehatan yang mencatat 13.371 penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan terkait MBG, dengan 638 rawat inap dan 12.755 rawat jalan.
Meskipun demikian, Dadan menegaskan bahwa program MBG secara keseluruhan berjalan lancar. Sejak Januari hingga November 2025, BGN sudah menyediakan 1,8 miliar porsi makanan bergizi bagi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di seluruh Indonesia.
“Sampai hari ini kita sudah memproduksi total 1,8 miliar porsi makan, dan alhamdulillah sebagian besar berjalan dengan baik,” tutupnya***











