Penulis: Jacbos E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KAMBOJA, SWARAJOMBANG.COM- Pasukan miloiter Thailand dikerahkan untuk menyerbu darat dan uatar wilayah perbatasan dengan kamboja, akibat sengketan perbatasan. Sengketa wilayah di sekitar Kuil Preah Vihear, situs warisan dunia UNESCO sejak 2008, berakar pada putusan Mahkamah Internasional (ICJ) tahun 1962 yang memberikan kuil tersebut kepada Kamboja.
Thailand, bagaimanapun, mengklaim area sekitarnya sebagai wilayahnya, memicu insiden sporadis sejak 2008.
Kini, pada Desember 2025, ketegangan memburuk setelah Kamboja diduga mendirikan pos militer di zona demiliterisasi, sementara Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk patroli udara.
Kedua negara saling tuduh melanggar kesepakatan damai Kuala Lumpur 2011, yang memediasi gencatan senjata sebelumnya. UNESCO telah mengeluarkan peringatan darurat untuk melindungi situs bersejarah tersebut dari kerusakan akibat pertempuran.
Hoaks
Di tengah konflik nyata, saat ini bermunculan video viral di TikTok, Instagram, dan YouTube yang mengklaim adanya “pasukan dukun Kamboja bernama The Librarians” melakukan ritual mistis menyerang foto Menteri Pertahanan Thailand.
Dalam sebuau video yang diunggah oleh akun Instgara@kotekscoid, Senin 15 Desember 2025. Tampak sejimlah orang berpenempilan seperti sipritual, dengan segala ornamen dan senjata yang dimiliki.
Mereka berkumpul dalam wadah yang disebut dengan The Librarian, tampak mereka khusyuk meditasi. Selanjutnya melakukan adegan menombak wajah seorang pimpinan militer yang tergambar pada spanduk yang dibentangkan pada pohon.
Selain itu, ada pula yang menyemburkan api melalui mulut ke arah orang yang sedang menjadi target sasara, memukul besi dan senjata tajam pada spanduk itu.
“The Librarians” disebut sebagai pasukan dukun yang menggunakan ilmu hitam, tapi ini hanya beredar di TikTok, Instagram, dan YouTube sebagai narasi perang psikologis atau satire.
Tidak ada bukti resmi dari sumber berita kredibel tentang pasukan semacam itu atau serangan terhadap foto menteri.
Konten ini, diunggah akun seperti @kotekscoid pada 15 Desember 2025, menampilkan orang-orang berpakaian ritualistik yang “menusuk” spanduk dan menyemburkan api—jelas sebagai propaganda psikologis atau satire.
Tidak ada konfirmasi dari sumber resmi seperti Kementerian Luar Negeri kedua negara atau agensi berita terverifikasi (Reuters, AFP).
Analis regional menyebutnya sebagai taktik perang informasi untuk melemahkan moral lawan, mirip kampanye hoax di konflik lain seperti Laut China Selatan.
Konflik ini berpotensi mengganggu rantai pasok ASEAN, mengingat kedua negara bergantung pada perdagangan perbatasan senilai miliaran dolar AS.
ASEAN, melalui Kementerian Luar Negeri Indonesia sebagai koordinator, mendorong mediasi darurat. Hingga kini, korban jiwa mencapai 40 orang, dengan ribuan warga mengungsi.
Pihak Thailand menuntut penarikan pasukan Kamboja, sementara Phnom Penh menyerukan investigasi netral oleh PBB. Tanpa intervensi cepat, risiko polarisasi etnis Khmer-Thai di perbatasan bisa memicu krisis kemanusiaan. **











