Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Kontes kecantikan unta di Oman memicu kontroversi setelah penyelenggara menemukan bahwa 20 “peserta” telah menyuntikkan zat ke punuk mereka, dan bahkan memiliki implan silikon, untuk meningkatkan penampilan mereka.
Kontes kecantikan unta merupakan tradisi budaya yang telah lama ada di banyak negara Timur Tengah, di mana hewan-hewan tersebut dinilai berdasarkan bulu, fisik, dan fitur wajahnya. Namun, Kontes Kecantikan Unta 2026 di Al Musanaa, Oman, menimbulkan kehebohan ketika dokter hewan menemukan tanda-tanda “operasi kosmetik” pada banyak kontestan.
Menurut Oddity Central , selama inspeksi, tim dokter hewan menemukan bahwa beberapa unta menunjukkan tanda-tanda jelas telah disuntikkan filler ke bibir mereka untuk menciptakan tampilan yang lebih penuh. Unta lainnya memiliki wajah kaku karena suntikan Botox, sementara beberapa kasus diduga memiliki implan silikon di hidung mereka untuk membentuk kembali fitur wajah mereka.
Selain itu, beberapa pemilik menyuntikkan zat ke punuk unta agar terlihat lebih penuh. Bahkan ada kasus di mana suntikan hormon pertumbuhan ditemukan dapat meningkatkan massa otot, membuat hewan tersebut terlihat lebih sehat dan lebih menonjol selama proses penjurian.
Menurut para pengamat, motivasi di balik tindakan ini terutama adalah keuntungan ekonomi . Unta yang memenangkan kontes kecantikan dapat memberikan nilai yang signifikan bagi pemiliknya, mulai dari menjualnya kembali dengan harga tinggi hingga pengembangbiakan. Oleh karena itu, beberapa orang rela mengambil risiko untuk meningkatkan penampilan unta, meskipun prosedur ini dilarang oleh aturan kontes.
Para dokter hewan memperingatkan bahwa intervensi kosmetik ini tidak hanya melanggar peraturan tetapi, yang lebih penting, membahayakan kesehatan hewan. Suntikan filler dapat menyebabkan peradangan kronis, Botox dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk makan, sementara suntikan hormon pertumbuhan dapat menyebabkan masalah reproduksi.
Untuk memastikan keadilan dan melindungi kesehatan unta, penyelenggara tahun ini mengumumkan bahwa mereka telah mendiskualifikasi 20 “peserta” yang diduga telah menjalani prosedur kosmetik dari kompetisi tersebut. Insiden ini semakin memicu perdebatan tentang batasan antara tradisi budaya dan penyalahgunaan intervensi untuk memenangkan kompetisi unik ini.***











