Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM- Sosok Bung Karno tak hanya dikenal sebagai proklamator dan pemimpin besar revolusi Indonesia, tetapi juga sebagai manusia dengan prinsip-prinsip kuat yang terbentuk dari pengalaman hidup yang panjang dan keras.
Dua sisi menarik dari kehidupan pribadi Soekarno ketakutannya terhadap perilaku homoseksual dan pengakuannya sebagai presiden termiskin di dunia menggambarkan bagaimana ia menjalani hidup dengan kesadaran moral dan kesederhanaan yang luar biasa.
Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri, pernah mengungkap bahwa Bung Karno memiliki ketakutan mendalam terhadap perilaku homoseksual, terutama yang ia saksikan langsung saat berada dalam penjara di masa penjajahan Belanda. Menurut Reza, pengalaman itu dituangkan Soekarno dalam biografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang pertama kali terbit pada 1965.
“Tahun 1920-an dia alami itu, kemudian dia tuangkan dalam sebuah bab khusus. Bung Karno lebih takut kepada homoseksual daripada kepada imperialis Belanda,” ujar Reza dalam sebuah diskusi di Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (27/2/2016). Reza menjelaskan, Bung Karno menyaksikan sendiri bagaimana para tahanan kehilangan akal sehat dalam kondisi terkurung dan akhirnya melakukan hubungan sesama jenis. Ketakutan itu bukan semata-mata kebencian, melainkan cerminan trauma dari kondisi sosial yang menurutnya melanggar kodrat manusia.
Di sisi lain, Bung Karno juga menunjukkan bahwa dirinya tidak pernah terjerat oleh gemerlap kekuasaan. Dalam wawancara dengan Cindy Adams, jurnalis asal Amerika Serikat yang menjadi penyusun biografi tersebut, Bung Karno mengaku sering meminjam uang kepada ajudannya demi menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Pernahkah ada kepala negara lain yang hidup dalam keadaan seburuk aku, seringkali meminjam uang dari ajudan-ajudanku?” kata Bung Karno kepada Cindy.
Pernyataan ini diperkuat oleh Guntur Soekarnoputra, anak sulung Bung Karno dari Fatmawati, dalam tulisannya di Media Indonesia (26 September 2020). Guntur menyebut bahwa kantong Bung Karno selalu tipis, bahkan sejak sebelum menjadi presiden.
“Bung Karno adalah presiden yang paling miskin di dunia ini. Ia tidak memiliki tanah, rumah, atau bahkan logam-logam mulia seperti yang digembar-gemborkan orang selama ini,” ungkap Guntur.
Kedua sisi kehidupan ini—ketegasan moral dan hidup dalam kesederhanaan membentuk narasi yang lebih manusiawi tentang Bung Karno. Ia bukan hanya pemimpin kharismatik, tapi juga manusia yang menjalani hidup dengan idealisme dan kerendahan hati yang langka di dunia politik.****






