Menu

Mode Gelap

Ekonomi

Harga Kosmetik Berpotensi Naik karena Sertifikasi Halal

badge-check


					Sertifikasi gratis untuk pengusaha kecil Perbesar

Sertifikasi gratis untuk pengusaha kecil

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) menilai biaya sertifikasi halal berpotensi berdampak terhadap harga jual produk kosmetik di pasar.

Pelaku usaha berharap proses sertifikasi dapat disederhanakan, sehingga tidak menambah beban biaya yang pada akhirnya dapat dibebankan kepada konsumen.

Ketua Bidang Teknis Ilmiah Perkosmi Riva Dwitya Ahmad mengatakan, biaya yang harus dikeluarkan pelaku usaha untuk mendapatkan sertifikat halal tidak dapat dipungkiri berpotensi memengaruhi market price produk kosmetik.

“Ya, betul. Memang untuk mendapatkan sertifikat halal itu ada biaya yang harus dikeluarkan oleh pelaku usaha. Tidak bisa dipungkiri, biaya tersebut pada ujungnya akan berdampak ke market price. Mau tidak mau,” ujar Riva di Jakarta Selatan, Selasa (1/9).

Menurut Riva, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Perkosmi terus melakukan advokasi dengan menyuarakan aspirasi para anggotanya, terutama terkait penyederhanaan proses sertifikasi.

Dia berharap proses sertifikasi halal dapat dibuat lebih sederhana dan implementatif sehingga lebih mudah diterapkan oleh pelaku usaha.

“Dari sisi biaya juga, harapan kami selain prosesnya bisa implementatif dan cepat, juga murah. Sehingga pelaku usaha tidak terbebani dengan sertifikasi halal ini, tetapi juga bisa mendapatkan benefit yang maksimum tanpa harus mengorbankan harga produk yang pada ujungnya dampaknya kembali ke konsumen,” jelasnya.

Sementara itu, Tim Kebijakan Publik dan Keberlanjutan Perkosmi Ribut Purwanti mengatakan tantangan sertifikasi halal tidak hanya berkaitan dengan potensi dampaknya terhadap konsumen, tetapi juga menyangkut daya saing produk kosmetik Indonesia.

Menurut Ribut, kewajiban sertifikasi dapat membuat produsen semakin bergantung pada supplier bahan baku tertentu yang telah memiliki sertifikasi halal.

“Jadi, kalau kita bicara tentang resiliensi terhadap bahan baku, kita menjadi tidak resilien karena kita hanya checklist dari supplier yang itu-itu saja,” kata Ribut.

Dia menilai ketergantungan tersebut dapat menjadi persoalan ketika terjadi gangguan pada rantai pasok global, termasuk akibat kondisi geopolitik maupun bencana alam.

“Kalau kita bicara mengenai kondisi geopolitik dan juga supply disruption yang sekarang terjadi, misalnya tiba-tiba ada pabrik yang terbakar di satu negara atau terjadi gempa, kita tidak bisa produksi karena bahan bakunya memang hanya berasal dari supplier yang sudah tersertifikasi,” ujarnya.

Menurut Ribut, kondisi tersebut membuat produsen memiliki fleksibilitas yang lebih terbatas dalam menjaga pasokan bahan baku maupun mengembangkan produk baru.

“Jadi, sebagai produsen, kita tidak memiliki fleksibilitas ketika ingin berinovasi. Resiliensi terhadap supply menjadi sangat terbatas,” katanya.

Dia juga menyoroti tantangan dari sisi inovasi. Menurutnya, industri kosmetik bergerak cepat sehingga pelaku usaha membutuhkan fleksibilitas untuk mengembangkan produk dan menggunakan bahan baku alternatif.

Namun, apabila proses yang harus dilalui terlalu panjang, hal tersebut dapat memperlambat inovasi meskipun bahan baku yang digunakan tidak memiliki unsur yang dilarang dalam ketentuan halal.

“Ketika kita bicara inovasi, semuanya bergerak cepat. Tetapi kalau kita harus mengikuti prosedur yang sangat panjang, meskipun dari bahan bakunya sendiri sebenarnya tidak ada kontaminasi atau tidak mengandung bahan yang berasal dari hewan, kita tetap harus mengikuti prosedur tersebut,” jelas Ribut.

Dia mengatakan fleksibilitas yang lebih besar di negara lain dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya saing industri kosmetik Indonesia.

“Kalau kita membandingkan creativity di Indonesia dengan negara lain, menjadi agak sulit karena daya saing kita berkurang. Kita tidak bisa bergerak lebih cepat,” ujarnya.

Karena itu, menurut Ribut, ketergantungan terhadap supplier yang telah memiliki sertifikasi halal menjadi tantangan tersendiri bagi produsen kosmetik, khususnya dalam menjaga ketahanan rantai pasok dan mempercepat inovasi produk.

“Kita juga akhirnya sangat tergantung terhadap supplier-supplier khusus yang memang sudah mendapatkan sertifikasi halal. Ini menjadi sangat menantang bagi kami sebagai produsen ketika memiliki keterbatasan seperti itu,” tandasnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Honda Super One Andalan Honda Jatim di GIIAS Surabaya 2026

27 Agustus 2026 - 19:22 WIB

Ketua Apindo: Pasar Domestik Dibanjiri Produk Impor

25 Agustus 2026 - 18:10 WIB

Harga Emas Naik, Antam Tembus Rp2.810.000 per Gram

25 Agustus 2026 - 17:17 WIB

Emas di Bawah Bantal Warga RI Setara Rp4.460 Triliun

20 Agustus 2026 - 19:39 WIB

Tahun 2027 Kuota BBM Subsidi Berkurang 50 Persen Lebih

19 Agustus 2026 - 21:35 WIB

Naik hingga Rp2,3 Juta iPhone 17 Series Akhir Agustus

18 Agustus 2026 - 20:30 WIB

4 Ahli Waris Michael Hartono Terima Warisan Rp52 Triliun per Orang

13 Agustus 2026 - 20:53 WIB

Akibat Karhutla Okupansi Hotel Melorot 20 Persen di Kawasan Bromo

13 Agustus 2026 - 20:36 WIB

Sampai Akhir Tahun, Harga Pertalite Tidak Naik

12 Agustus 2026 - 17:02 WIB

Trending di Ekonomi