Menu

Mode Gelap

Headline

Dua Pandangan Berseberangan soal Kebijakan Berbasis Data

badge-check


					Kiri, Ina Liem dan Cania Citta Perbesar

Kiri, Ina Liem dan Cania Citta

Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga

SURABAYA, SWARAJOMBANG.COM-Leaders Camp 2025 Regional 3 menjadi panggung perdebatan menarik antara Cania Citta, Co-Founder Malaka Project, dan Ina Liem, konsultan pendidikan. Keduanya menyampaikan pandangan berbeda mengenai peran data dalam pengambilan kebijakan publik.

Cania Citta: Data Tidak Menentukan Prioritas

Dalam sesi diskusi, Cania menegaskan bahwa kebijakan publik tidak bisa semata-mata ditentukan oleh data.

Ia mencontohkan dilema sederhana: “Mana kebijakan yang lebih baik? Bangun jembatan atau benerin jalan yang rusak?”

Menurutnya, baik atau tidaknya suatu kebijakan bersifat relatif. “Ketika kita ngomong kebijakan berbasis data, data nggak bisa menjawab itu. Kita nggak bisa mencari data untuk menentukan prioritas kita, kebutuhan kita, kepentingan kita, itu nggak bisa dijawab oleh data.”

Cania menekankan bahwa data hanya memberi gambaran, tetapi keputusan tetap bergantung pada pertimbangan nilai dan kepentingan.

Ina Liem: Data Harus Jadi Fondasi

Pandangan Cania langsung dibantah oleh Ina Liem melalui unggahan di Instagram pribadinya pada 19 November 2025.

Ina menegaskan: “Kebutuhan apalagi kebutuhan publik justru harus dijawab oleh data dan bisa kalau mau. Tanpa data yang muncul bukan kebutuhan tapi preferensi pribadi atau kelompok. Ini bahaya. Pernyataan ini berbahaya secara kebijakan dan menyesatkan publik.”

Ia mencontohkan pengalamannya sebagai panelis dalam diskusi Bridging Education and Industry bersama British Embassy. Saat ditanya apakah pemerintah memiliki data kebutuhan tenaga kerja per sektor industri, jawabannya adalah tidak.

“Yang bisa ditampilkan hanyalah jumlah SMK perhotelan, SMK pertanian, SMK pariwisata beserta jumlah siswanya. Artinya kita hanya punya data output, tapi tidak punya data demand alias kebutuhan.”

Akibatnya, kata Ina, pembangunan SMK selama ini tidak berdasarkan kebutuhan industri, melainkan preferensi pembuat kebijakan. Hal ini menimbulkan mismatch: kelebihan lulusan di satu bidang, kekurangan di bidang lain, industri kekurangan talenta, sementara jutaan lulusan tidak terserap.

Ina menutup dengan peringatan keras: “Hati-hati dengan orang yang menolak data, menolak transparansi, dan bersembunyi di balik preferensi alias suka-suka.”

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dr. Wong Chung Chek, The Most Wanted Doctor, Ahli Bedah Tulang Belakang Terkemuka di Asia-Pasifik

2 Juli 2026 - 10:51 WIB

Tangan Dewa Dr. Lee Woo Guan, Ahli Bedah Ortopedi dari Malaysia Sembuhkan Ribuan Pasien

2 Juli 2026 - 09:12 WIB

Dua Pakar Ortopedi Malaysia Nyatakan Robot Hanya Membantu, Peran Dokter Ahli Tetap Penentu

28 Juni 2026 - 13:01 WIB

Polresta Sidoarjo Diancam Didemo Lantara Dinilai Lamban Tangani Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Anak Dibawah Umur

9 Juni 2026 - 19:16 WIB

Polisi Bogor Ringkus Tersangka Pembuang Jasad Anggi Auliya di Tol Simpang Yasmin

24 Mei 2026 - 14:53 WIB

Kapolresta Bogir, Kombes Rio Wahyu Anggoro, Kapolresta Bogor, memberi keterangan kepada pers atas penangkapan seoran tersangka pembuang jasad perempuan Anggi Auliya Arsyad, Minggu, 24 Mei 2026. Foto: instgaram@polresta_bogor

Dua Staf Meninggal Dunia, Mobil Anggota DPR RI Seruduk Dump Truck di Tol Paspro

24 Mei 2026 - 13:19 WIB

Tercatat 12 Aksi Teror Pocong di Jawa: Berisi Iseng Konten Kreator dan Hoaks

24 Mei 2026 - 12:36 WIB

Polisi Bekasi Melepas Pelaku Teror Pocong, Dua Pelaku Dibebaskan karena Cuma Iseng

23 Mei 2026 - 16:54 WIB

Skandal Mempelai Wanita Hilang di Pati, Polisi Temukan Nayla Bersama Davin Pacarnya di Penginapan

23 Mei 2026 - 12:20 WIB

Polisi Pati telah menemukan Nayla dan Davin Febriansyah (18 th), warga Desa Purwosari, Tlogowungu. Mereka dijemput untuk dipertemukan dengan keluarga, Sabtu 23 Mei 2026. Foto: instagram@fakta_harini
Trending di Headline