Penulis: Tanasyafria Libas Tirani | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM – Persaingan indusrti hiburan video di Asia sangat keras menunjukkan dinamika pertumbuhan yang menarik pada tahun 2025, dengan China memimpin sebagai pasar terbesar dan paling inovatif.
Laporan Media Partners Asia (MPA) mengungkapkan bahwa pendapatan micro drama di China melonjak tajam hingga mencapai sekitar Rp 156,06 triliun (USD 9,4 miliar) pada tahun 2025 ini, menandai lonjakan sebesar 34,3% dibanding tahun 2024.
Angka ini tidak hanya memperkuat dominasi China di ranah hiburan digital, tetapi juga menunjukkan bagaimana micro drama menjelma menjadi format favorit konsumen yang menyukai konten singkat dan padat untuk konsumsi mobile.
Pertumbuhan pesat ini didorong oleh delapan platform utama di China, seperti DramaBox dan FlickReels, yang menggunakan strategi pemasaran agresif serta mengoptimalkan format vertikal berdurasi 1-5 menit untuk menjangkau jutaan penonton.
Adaptasi konten yang sesuai dengan gaya hidup digital modern ini mengubah cara masyarakat mengakses hiburan, beralih dari acara panjang ke tontonan sekilas yang mudah diikuti di sela aktivitas sehari-hari.
Teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci utama di balik kecepatan perkembangan industri ini. Penggunaan AI dalam merancang alur cerita, merekomendasikan konten, hingga menciptakan fenomena viral, tidak hanya mempercepat produksi tapi juga meningkatkan keterlibatan penonton. Integrasi teknologi canggih ini mencerminkan tren industri hiburan yang semakin tergantung pada inovasi digital.
Meski Jepang dan Korea juga mencatat pertumbuhan, dengan pendapatan masing-masing Rp 4,42 triliun dan Rp 1,82 triliun, perbedaan skala pasar sangat nyata.
China dengan lebih dari 830 juta penonton, di mana 60% aktif bertransaksi, membuktikan bahwa micro drama bukan sekadar hiburan, melainkan pilar penting dalam ekosistem ekonomi digital hiburan Asia.
Ke depannya, micro drama diperkirakan akan terus berkembang pesat, terutama di China yang diproyeksikan mencapai pendapatan USD 16,2 miliar pada tahun 2030.
Inovasi format, teknologi, dan strategi pemasaran yang adaptif menjadi faktor utama yang memungkinkan keberlanjutan tren ini, sekaligus menandai era baru konsumsi media yang mengutamakan kecepatan, keterjangkauan, dan keterlibatan tinggi. **











