Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
CARACAS, SWARAJOMBANG.COM- Tujuh ledakan besar mengguncang Caracas, ibu kota Venezuela, pada Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 waktu setempat (13.00 wub), 3 Januari 2026, tepat di wilayah selatan kota dekat pangkalan militer Fortuna.
Insiden ini memicu kepanikan warga yang berlarian ke jalan, disertai suara pesawat terbang rendah, asap tebal, bola api, serta pemadaman listrik di kawasan tersebut.
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Venezuela atau pihak terkait mengenai penyebab pasti, meski kejadian ini terjadi di tengah ketegangan politik dengan AS.
Ledakan pertama terdengar sekitar pukul 02.00, diikuti enam dentuman lagi yang mengguncang wilayah selatan Caracas, termasuk dekat pangkalan militer utama.
Video amatir menunjukkan kepulan asap hitam pekat dan sirene peringatan udara, sementara warga melaporkan getaran hebat. Pemadaman listrik meluas pasca-ledakan, memperburuk situasi di kawasan strategis.
Konteks Ketegangan
Insiden ini berlangsung di tengah eskalasi antara rezim Presiden Nicolas Maduro dan AS, termasuk tuduhan perubahan rezim serta isu perdagangan narkoba.
Maduro baru saja menyatakan kesiapannya berdialog dengan AS, tapi belum ada konfirmasi keterlibatan pihak eksternal dalam ledakan. Belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan signifikan hingga informasi terakhir beredar.
Laporan menyebut suara pesawat rendah dan bola api mengarah pada kemungkinan serangan AS, sejalan dengan ancaman Trump soal operasi darat Venezuela. Presiden Kolombia Gustavo Petro klaim “mereka sedang membombardir Caracas” via X, meski tanpa bukti kuat.
Analis curiga sabotase oleh elemen militer Venezuela yang ingin gulingkan Maduro, memanfaatkan ketegangan politik domestik. Tidak ada klaim tanggung jawab atau laporan korban hingga kini.
Belum ada pihak yang secara resmi mengklaim atau ditetapkan bertanggung jawab atas ledakan di Caracas pada 3 Januari 2026. Tuduhan utama mengarah pada Amerika Serikat, terutama di bawah Presiden Donald Trump, dengan spekulasi serangan udara atau operasi militer dekat pangkalan Fortuna.
Media dan pejabat seperti Presiden Kolombia Gustavo Petro menuding militer AS sebagai pelaku, didasari suara pesawat rendah dan ancaman Trump terkait Venezuela. Tidak ada konfirmasi dari AS atau bukti konkret hingga saat ini.
Beberapa laporan spekulasi sabotase internal oleh faksi oposisi atau militer Venezuela yang menentang Maduro, tapi tanpa klaim tanggung jawab. Pemerintah Venezuela belum beri statement resmi. **











