SWARAJOMBANG.COM- Survei yang dilakukan oleh platform EVA AI terhadap 2.000 responden pria mengungkapkan bahwa 81% dari mereka ingin menikahi AI sebagai pasangan hidup mereka, jika sudah dilegalkan. Survei ini menunjukkan tren bahwa sebagian besar pria merasa bisa dekat dan nyaman dengan karakter AI, bahkan ada yang siap menjalin hubungan serius hingga menikah dengan AI.
Yang dimaksud dalam survei EVA AI tersebut adalah aplikasi AI berbasis chatbot dan virtual partner yang beroperasi di berbagai platform chat seperti WhatsApp, Telegram, Instagram, LINE, dan lainnya, bukan robot fisik.
EVA AI merupakan chatbot cerdas yang dapat diajak berkomunikasi secara natural dan interaktif, dengan kemampuan memahami typo, singkatan, dan beradaptasi dengan berbagai bahasa, serta memberikan respons yang mirip layanan customer service manusia.
Selain itu, EVA AI juga dikenal sebagai aplikasi interaktif yang memungkinkan pengguna membangun hubungan dan kedekatan emosional dengan AI virtual melalui percakapan yang personal dan imersif, seperti dalam aplikasi game cerita cinta interaktif yang tersedia di platform mobile. Jadi, survei tersebut merujuk pada AI dalam bentuk aplikasi chatbot dan virtual partner digital, bukan robot fisik berbasis AI.
Beberapa temuan penting dari survei EVA AI ini antara lain:
- 80% responden percaya bahwa pacar AI bisa menggantikan pasangan manusia.
- 78% tertarik untuk membuat replika digital mantan pasangan mereka.
- AI dianggap bisa memberikan jawaban dan dukungan emosional yang sesuai dengan keinginan pengguna.
- Ada pengguna yang merasa menemukan jati diri mereka lewat interaksi dengan AI.
Namun, survei ini juga menyoroti tantangan sosial dan etis, seperti ketergantungan emosional yang bisa menghambat hubungan nyata, serta masalah privasi dan etika dalam pembuatan replika digital tanpa izin.
Fenomena ini bukan hanya sekadar data, tapi juga tercermin dalam kisah nyata seperti pria yang menikahi chatbot AI dan menjalani upacara pernikahan virtual, menunjukkan bahwa hubungan dengan AI kini semakin nyata dan kompleks dalam konteks sosial.
Jadi, survei EVA AI memang menemukan fakta bahwa mayoritas pria yang disurvei memiliki keinginan menikahi AI, mencerminkan perubahan pandangan tentang hubungan dan pernikahan di era digital berbasis kecerdasan buatan.
Survei yang menemukan bahwa 81% dari 2.000 responden pria ingin menikahi AI dilakukan oleh platform EVA AI, sebuah platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang fokus pada interaksi dan hubungan dengan AI sebagai “pujaan hati” digital.
Namun, dari hasil pencarian yang tersedia, tidak ditemukan informasi lebih rinci mengenai institusi atau pihak spesifik yang melakukan survei ini selain disebutkan secara umum sebagai survei oleh EVA AI. Jadi, survei tersebut berasal dari platform EVA AI itu sendiri.
Hal itu diperkuatn oleh sewbuah survei lain, dimana persepsi antara pria dan wanita tentang menikahi AI menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan berdasarkan penelitian dan survei terkini.
Studi di Asia Timur yang melibatkan 503 partisipan menemukan bahwa interaksi dengan pasangan virtual seperti AI cenderung memuaskan kebutuhan emosional pria lebih daripada wanita, sehingga pria yang menjalin hubungan virtual dengan AI cenderung memiliki minat yang lebih rendah terhadap pernikahan nyata.
Hal ini karena mereka merasa kebutuhan emosionalnya sudah terpenuhi oleh AI, sehingga mengurangi keinginan mencari pasangan manusia di dunia nyata.
Sebaliknya, ada juga sebagian partisipan, termasuk wanita, yang justru merasa hubungan virtual dengan AI membuat mereka lebih menghargai dan optimis terhadap nilai-nilai pernikahan tradisional.
Dengan kata lain, bagi sebagian wanita, hubungan dengan AI tidak sepenuhnya menggantikan keinginan atau pandangan positif terhadap pernikahan nyata, melainkan bisa memperkuat harapan akan pernikahan yang sesungguhnya.
Secara umum, pria lebih cenderung melihat AI sebagai pengganti pasangan manusia yang dapat memenuhi kebutuhan emosional dan romantis mereka, sementara wanita mungkin lebih memandang hubungan dengan AI sebagai pelengkap atau pengalaman yang tidak sepenuhnya menggantikan hubungan nyata. Faktor antropomorfisme romantis-kecenderungan menganggap AI sebagai pasangan yang tulus secara emosional-juga lebih menonjol pada pria.
Kesimpulannya, persepsi pria dan wanita terhadap menikahi AI berbeda, dengan pria lebih terbuka dan memiliki minat lebih besar untuk menikahi AI karena pemenuhan kebutuhan emosional, sedangkan wanita cenderung memiliki pandangan yang lebih kompleks dan beragam terkait hubungan virtual dan pernikahan nyata. **