Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Ketegangan geopolitik di Eropa Timur kembali memuncak menyusul insiden seragan udara Rusia yang nyaris mengenai mantan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, serta sejumlah diplomat senior Uni Eropa.
Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu pagi, 13 September 2026, di dekat Stasiun Yahodyn, wilayah Volyn, yang berbatasan langsung dengan Polandia.
Rombongan delegasi tingkat tinggi tersebut sedang dalam perjalanan kembali menuju Warsawa, Polandia, setelah menghadiri Konferensi Yalta European Strategy (YES) di ibu kota Kyiv.
Di dalam kereta khusus tersebut, tercatat beberapa tokoh penting Barat, antara lain mantan PM Inggris Boris Johnson, mantan PM Swedia Carl Bildt, serta penasihat keamanan utama dari Jerman, Prancis, dan Italia.
Berdasarkan laporan resmi dari otoritas perkeretaapian Ukraina (Ukrzaliznytsia), alarm peringatan serangan udara mulai berbunyi di sekitar area stasiun pada pukul 05.00 waktu setempat.
Baca Juga: Liga Primer 2026/2027: Badan Wasit Ngaku Blunder, Minta Maaf ke MU Soal Gol Haaland!
Guna mengantisipasi ancaman, operator mempercepat jadwal keberangkatan kereta yang membawa Boris Johnson dan rombongan VIP agar segera meninggalkan zona bahaya.
Hanya berselang sekitar 15 menit setelah kereta rombongan utama bergerak, sebuah drone kamikaze milik militer Rusia menghantam lokomotif kereta penumpang sipil yang sedang berhenti tepat di belakang rute mereka.
Benturan keras tersebut menyebabkan ledakan dan kebakaran hebat pada bagian mesin kereta.
Berkat respons cepat dari sistem keamanan stasiun yang langsung mengevakuasi seluruh penumpang di area sekitar sebelum benturan terjadi, otoritas setempat mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden ini.
Kereta yang ditumpangi delegasi Barat sempat tertahan selama beberapa saat untuk penyisiran keamanan sebelum akhirnya diizinkan melanjutkan perjalanan dengan aman menuju Dorohusk, Polandia.
Pasca-insiden tersebut, Boris Johnson mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras tindakan militer Rusia melalui akun media sosial pribadinya. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil di perbatasan merupakan bentuk terorisme nyata.
“Sangat sulit memahami logika di balik keputusan untuk meledakkan lokomotif sipil yang sedang berhenti di dekat perbatasan Polandia. Insiden pagi ini adalah potret nyata dari serangan acak dan kejam yang harus dihadapi oleh warga sipil Ukraina setiap harinya,” tegas Johnson.***











