Penulis: Mayang K. Mahardhika | Editor: Priyo Suwarno
SUBANG, SWARAKOMBANG.COM – Pedagang es gabus Suderajat, 49, dari Bojonggede, Bogor, melejit namanya di media sosial nasional setelah video tuduhan bahan baku esnya dari spons memicu simpati luas.
Banyak pihak berbondong memberikan uluran tangan, mulai dari donasi uang, motor dari polisi, tiket umrah, hingga kunjungan simpatisan dari Malaysia.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) turut memberikan bantuan awal berupa uang tunai Rp15 juta kepada Suderajat saat pedagang itu dalam perjalanan ke Karawang.
Dana tersebut dimaksudkan untuk bayar kontrakan setahun (Rp9,6 juta), lunasi tunggakan sekolah anak, serta kebutuhan hidup pasca empat hari tak berjualan akibat kontroversi viral.
Pertemuan keduanya digelar pada pagi Rabu (28/1/2026) di kediaman pribadi KDM di Lembur Pakuan, Subang. Suderajat tiba dini hari setelah berangkat malam sebelumnya dari Bogor, didampingi Ketua RW setempat, M. Ali Akbar, yang mengantar langsung seperti disampaikan pernyataannya saat itu.
Video acara yang tayang di kanal YouTube Dedi Mulyadi justru viral lagi pada Jumat (30/1/2026), lengkap dengan pengecekan kondisi rumah Suderajat.
Namun, simpati KDM berubah menjadi kekecewaan mendalam setelah fakta terungkap di lapangan. Pedagang viral ini mengaku diintimidasi oknum aparat, tapi banyak ceritanya terbantahkan.
KDM yang awalnya kasihan karena dugaan kemiskinan, malah murka saat inspeksi langsung rumah Suderajat yang ternyata milik sendiri beserta tanahnya—bukan kontrakan seperti klaim awal. Ia bahkan pernah dapat bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Ketua RW M. Ali Akbar membenarkan di hadapan KDM: “Itu rumah milik sendiri, Pak. Tanahnya pun milik sendiri,” seperti dikutip dari video YouTube Dedi Mulyadi pada Jumat (30/1).
KDM langsung mengamuk, menghantam meja, dan menegur keras Suderajat atas kebohongan berulang. “Katanya ngontrak. Bohong itu! Kenapa bohong mulu?” serunya dengan nada menggelegar.
KDM juga menyinggung detail lain: “Babeh bilangnya ngontrak. Bohong sih! Kenapa bohong terus?” (setelah konfirmasi RW soal kepemilikan rumah).
“19 tahun ngontrak terus?” (merespons penjelasan RW tentang masa tinggal).
“Rumah sendiri, tanahnya juga tanah sendiri?” (verifikasi langsung dengan RW).
“Orang tua sudah ngasih rumah, tapi Babeh bilangnya enggak dikasih, cuma Rp 200 ribu. Habis itu orang tuanya beli rumah di Bogor, dijual sama saudaranya.” (menyoroti warisan yang diklaim minim).
RW menambahkan bahwa rumah dibeli almarhum orang tua Suderajat sekitar 2007 seharga Rp35–40 juta, fakta yang semakin memanaskan situasi.
Suderajat berulang minta maaf, mengaku rumahnya pernah rusak parah dan dibantu Rutilahu, tapi KDM tak bergeming. Baginya, inti masalah adalah kebohongan, bukan sekadar kondisi ekonomi. **











