Penulis: Eko Wienarto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, LOMBOK – Sosok yang dijuluki ‘Sister Hong Lombok’ akhirnya muncul dan mengungkap jati dirinya. Ia adalah Deni Apriadi Rahman, pria berusia 23 tahun asal Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, NTB. Profesi utamanya sebagai makeup artist (MUA) dengan nama panggung Dea Lipa.
Deni lahir dari keluarga broken home. Orang tuanya bercerai saat ia masih balita dan merantau sebagai tenaga migran, sehingga ia dibesarkan oleh nenek dan bibi dari pihak ibu dalam kondisi ekonomi terbatas.
Ia menyandang disabilitas pendengaran sejak kecil, yang memburuk akibat kecelakaan pada usia 10 tahun. Hanya tamat SD karena keterbatasan tersebut, Deni belajar makeup secara otodidak lewat media sosial.
Ia menjadi MUA pengantin profesional di Lombok, sering tampil feminin dengan jilbab sebagai ekspresi kekaguman terhadap kelembutan muslimah—bukan untuk menipu. Ia tinggal di lingkungan mayoritas perempuan, yang memengaruhi minatnya pada kecantikan. Deni beragama Islam dan sejak kecil sering mengalami perundungan.
Pada 6 November 2025, akun Facebook @Diana_Arkayanti mengunggah foto Deni yang tampil feminin berhijab. Unggahan itu langsung viral di Facebook, Instagram, dan TikTok, memicu spekulasi liar: tuduhan penista agama, sodomi, berada di shaf wanita masjid, hingga julukan ‘Sister Hong Lombok’.
Deni mengaku tak mengenal pemilik akun tersebut. Ribuan komentar hinaan, ancaman, dan teror DM membanjiri akunnya, menyebabkan tekanan mental berat, pikiran bunuh diri, serta pembatalan order MUA yang merugikan dirinya dan tim.
Konferensi Pers
Pada 14-15 November 2025, Deni menggelar konferensi pers di Mataram, didampingi keluarga dan Solidaritas Kemanusiaan. Sambil menangis, ia membantah semua tuduhan.
“Banyak narasi yang disebarkan tidak sesuai kenyataan. Saya sama sekali tidak berniat menjadikan busana itu sebagai alat menipu atau melecehkan siapa pun,” ujarnya.
Ia menegaskan menghormati rumah ibadah, tata cara ibadah, dan adat agama—tak pernah memakai mukenah masuk masjid atau beribadah di shaf wanita.
Deni ungkap tekanan mental dan fisiknya: “Saya sangat terpukul. Bahkan beberapa kali sempat kehilangan kendali dan mengalami pikiran-pikiran berbahaya terhadap diri saya.” Keluarganya meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan.
Kasus ini memicu kontroversi mirip ‘Sister Hong’ sebelumnya, membahas isu identitas, ekspresi diri, dan tekanan sosial di Lombok. Deni berjanji berhenti memakai hijab agar bisa kembali bekerja sebagai MUA untuk menopang hidup.
Ia menutup dengan pesan: “Saya berharap kejadian ini menjadi pelajaran. Ada cara lebih baik dan bijak untuk mengingatkan atau menegur seseorang, bukan dengan fitnah, cacian, dan penghakiman di ruang publik.” **











