Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
SUMUT, SWARAJOMBANG.COM- Wajah sosial dan ekonomi masyarakat semakin terpuruk pasca bencana banjir bandang akibat hutan ditebang di Sumatera. Seorang warga pria di Sibolga, Sumatera Utara, melalui medos menyampaikan permintaan maaf setelah mengakui menjarah tiga bungkus mi instan dari sebuah minimarket saat banjir melanda.
Videonya muncul di viral, Minggu 30 November 2025, pasca terjadi berbabai insiden penjarahan beberapa minimarket di berbagai daerah bencana, karena memang tidak ada pasokan makanan yang datang kepada mereka.
Dalam video itu, pria ini mengatakan: “Kepada pemilik Alfamart, sebelumnya saya mohon maaf. Karena saya juga salah seorang yang menjarah Alfamart tersebut,” dia.
“Saya sebenarnya tidak ada niat untuk berbuat itu, cuma karena keterbatasan makanan yang kami miliki. Kami juga terjebak banjir tidak ada uang untuk membeli. Tidak ada bantuan sama sekali, akhrinya kami ikut mengambil juga,” pria tiga anak itu mengaku.
“Tadi saya juga ikut mengambil mie, saya mendapat sida-sisa. Ada juga air mineral Ada juga snack,” katanya memerinci beberapa makanan yang dia ambil.
“Saya sekali lagi memohon maaf, atas kekhilafan saya. Sekali lagi saya mohon maaf, Inshaaallah situasi telah membaik dan saya pun bisa melakukan aktivitas, saya akan kembalik!” demikian perkataan pria itu dikutip dari video Instagram@medsoszone, Minggu 30 November 2025.
Ia mengaku terpaksa melakukan hal itu demi memberi makan anaknya yang kelaparan. Warga tersebut berjanji akan mengganti seluruh barang yang diambil begitu situasi membaik dan akses bantuan kembali normal.
Sementara itu, sejumlah minimarket di Kota Sibolga, Sumatera Utara, dijarah diduga korban longsor dan banjir yang belum mendapatkan bantuan. Polisi kemudian bergerak menangkap 16 pelaku penjarahan.
“Satreskrim Polres Sibolga telah mengamankan 16 orang pelaku yang terlibat dalam aksi penjarahan di beberapa minimarket,” kata Kasat Reskrim Polres Sibolga AKP Rustam E Silaban, Minggu, 30 November 2025.
Rustam memerinci ke-16 pelaku adalah MHH (20), SS (24), AZ (27), ZR (24), OFH (18), ART (19), DH (20), ISS (18), A (18), MS (18), BA (18), ER (21), DAM (18), ABS (18), D (18) dan BNH (17) yang diamankan saat hendak melakukan penjarahan. Para pelaku ini mengambil sejumlah barang, mulai dari minuman kemasan, sosis, gula, sabun, hingga makanan ringan.
“Para pelaku diamankan di lokasi berbeda dengan barang bukti berupa makanan ringan, minuman, dan sejumlah barang kebutuhan rumah tangga,” jelasnya.
Ia memerinci minimarket yang dijarah itu terdiri dari 3 gerai Indomaret di Jalan Sisingamangaraja, Jalan Suprapto dan Jalan Sibolga-Barus. Lalu, ada satu Alfamidi di Jalan Sisingamangaraja serta tiga Alfamart di Jalan Imam Bonjol, Jalan Suprapto dan Jalan Merpati. Penjarahan itu diketahui terjadi pada Sabtu (29/11) pagi.
Pihak kepolisian bersama TNI kini berjaga di sejumlah minimarket dan pusat perbelanjaan untuk mengantisipasi kejadian serupa kembali terjadi.
“Situasi di Kota Sibolga saat ini berada dalam pengawasan ketat aparat gabungan TNI/Polri. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi dan tetap menjaga ketertiban demi keamanan bersama,” pungkasnya.
Semata-mata Kebutuhan Mendesak
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan bahwa masyarakat tidak memiliki niat jahat atau berniat melakukan penjarahan, melainkan tindakan tersebut semata-mata karena kebutuhan mendesak akibat keterlambatan bantuan bencana banjir di Sumatra.
Pernyataan ini disampaikan Suharyanto pada 29 November 2025 dalam keterangan pers, merespons insiden warga merebut logistik bantuan di Bandara Pinangsari, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, serta kasus serupa di Sibolga dan Aceh Tamiang.
Ia menekankan bahwa warga mungkin belum makan selama beberapa hari karena daerah terisolasi dan akses darat terputus, sehingga tim BNPB memilih membagikan bantuan langsung untuk meredakan situasi.
Situasi kini kondusif setelah penjelasan bahwa pengiriman logistik akan berkelanjutan via udara, laut (termasuk KRI AL), dan Starlink untuk komunikasi.
Banjir dan longsor di Aceh, Sumbar, dan Sumut telah menewaskan 303 orang per 30 November 2025, dengan Sumut terparah (166 jiwa), serta 143 orang hilang. Distribusi bantuan terkendala kapasitas pesawat kecil dan jalur terputus, tetapi pemerintah pusat menjamin pasokan bertahap selama masa tanggap darurat. **











