Penulis: Fla | Editor: Aditya Prayoga
JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM– Petani kopi di Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, mengikuti kegiatan Sekolah Lapang (SL) Kopi yang digelar di Gapoktan Panglungan pada Selasa, 5 Agustus 2025. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas petani dalam budidaya kopi, khususnya terkait pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
SL Kopi menghadirkan dua narasumber: Shokib Ikhsanudin, petugas Pengendali OPT, dan Addib Taufani, Koordinator Wilayah BPP Wonosalam. Kegiatan juga didampingi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari BPP Wonosalam. Selain penyampaian materi di ruangan, peserta turun langsung ke kebun untuk praktik pengecekan pH tanah.
Praktik lapangan ini merupakan tindak lanjut dari program Dinas Pertanian Kabupaten Jombang yang sebelumnya mengirim dua pemuda tani untuk mengikuti pelatihan singkat (short term training) di BBPP Ketindan, Malang, pada 22–23 Juli 2024. Pelatihan ini merupakan bagian dari proyek “Enhancing Milenial Farmer’s Income by Adopting Korean Smart Farm Technologies in Indonesia” atau peningkatan pendapatan petani milenial melalui adopsi teknologi pertanian pintar ala Korea.
Dua peserta yang mengikuti pelatihan tersebut adalah Ahmad Lafilian Romadhi, pengusaha Melonponik dari Megaluh, dan Eriyo Nanda, pengusaha budidaya anggrek di Peterongan. Selain mendapat materi di kelas, mereka juga meninjau langsung penerapan teknologi Korean Smart Farming di Green House BBPP Ketindan. Pelatihan ini melibatkan para Widyaiswara serta tim ahli dari Korea.
Diharapkan hasil pelatihan ini dapat diimplementasikan oleh pemuda tani dan disebarluaskan kepada petani lain untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan.
Kabupaten Jombang sendiri merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Jawa Timur. Pada 2023, luas tanaman kopi mencapai 2.006 hektare, terdiri dari jenis Robusta, Arabika, dan Liberika (terutama Excelsa). Kopi Excelsa memiliki lahan seluas 668 hektare dengan produksi mencapai 420 ton buah kopi (cherry).
Peluang pengembangan agribisnis kopi Excelsa di Jombang masih terbuka lebar, baik melalui perluasan areal, intensifikasi, peningkatan mutu, hingga pengembangan industri hilir. Kopi Excelsa dari Wonosalam dikenal memiliki karakter rasa khas yang berpotensi menjadi produk unggulan berkualitas tinggi.
Dalam menghadapi persaingan global, diferensiasi produk menjadi kunci. Salah satunya dengan pemberian Indikasi Geografis (IG) yang menjamin asal-usul dan mutu produk dari suatu wilayah tertentu. Di Jombang, para petani mulai merintis perlindungan kopi Excelsa lewat pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Excelsa Jombang (MPIG-KEJ) pada Agustus 2019. MPIG ini dipimpin oleh M. Edi Kuncoro, ST, dan berkedudukan di Dusun Pucangrejo, Desa Wonosalam. Pembentukan lembaga ini mendapat dukungan penuh dari Bupati Jombang melalui surat keputusan resmi.****











